Tampilkan postingan dengan label POSO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POSO. Tampilkan semua postingan

Danau Poso



Terletak di kota Tentena pada posisi strategis lintasan perjalan Trans Sulawesi antara Toraja, Poso, Gorontalo dan Manado membuat Danau Poso selalu disinggahi wisatawan. Danau Poso dapat dicapai dengan perjalan darat 57 kilometer dari kota Poso atau 283 kilometer dari kota Palu.

Luasnya bisa mencapai ± 32.000 hektar yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 32 kilometer dengan lebar 16 kilometer dan kedalaman mencapai 510 meter. Danau yang terletak pada ketinggian 657 meter pada permukaan laut memiliki keunikan karena berpasir putih dan kuning keemasan serta bergelombang seperti air laut.

Panorama alam di sekeliling danau sangat indah dan alami. Perbukitan dan hutan di sekitarnya berdiri tegar memagari danau. Udara yang sejuk membawa kesegaran bagi para Pengunjung.

Air Danau Poso sangat jernih dan tidak keruh meskipun terjadi banjir pada sungai-sungai yang bermuara di danau ini.
Lanjutkan membaca “Danau Poso”  »»

Kapolsek Pamona Selatan Tewas Ditabrak Truk

Palu: Kepala Kepolisian Sektor Pamona Selatan, Poso, Sulawesi Tengah, Inspektur Polisi Satu (Iptu) Dunber Malaeni, Sabtu (2/5) pagi tewas tertabrak truk. Kecelakaan ini terjadi di jalan Trans Sulawesi antara Desa Taripa, Pamona Selatan, dan Tentena, Pamona Utara. Musibah itu terjadi sekitar pukul 06.30 WITA, saat korban berangkat menuju Kota Poso, sekitar 100 kilometer dari Taripa. Korban berangkat dengan sepeda motor dan menggunakan pakaian dinas untuk menghadiri sebuah acara di Polres Poso.
Saat ditemukan warga, korban yang bersimbah darah masih bernapas sehingga dibawa ke pusat kesehatan masyarakat di Taripa. "Namun hanya beberapa menit di puskesmas, Kapolsek mengembuskan napas terakhir," ujar Ita, seorang warga Desa Taripa. Menurut dia, korban mengalami luka berat di bagian kepala. Belum ada kepastian mengenai pemakaman jenazah meski ada rencana untuk dilakukan di tempat kelahirannya di Beteleme, Morowali, Sulawesi Tengah.

Iptu Dunber Malaeni yang sudah bertugas sebagai Kapolsek Pamona Selatan selama sekitar setahun, sebelumnya bertugas di Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan di Makassar. Istri dan anak-anaknya masih tinggal di Makassar.
Lanjutkan membaca “Kapolsek Pamona Selatan Tewas Ditabrak Truk”  »»

Investor Singapura Tertarik Tambang dan Perikanan Poso

Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, Presiden Direktur Ina International Liem Tin asal Singapura sudah dua kali menjelajahi tanah Poso, Sulawesi Tengah, daerah bekas konflik komunal itu.
"Tidak ada kekhawatiran soal keamanan di Poso. Kami telah menyaksikan sendiri bahwa Poso kini aman untuk investasi,"kata Nevita Anastasia, General Manager Ina Internasional Jakarta yang selalu mendampingi bosnya berkunjung ke Poso belum lama ini.

"Kami malah akan menjadikan Poso dan Sulawesi Tengah umumnya sebagai pusat kegiatan investasi di bidang pengelolaan sumber daya alam (natural resources) seperti perikanan dan kelautan, pertambangan, serta pertanian," ujar Nevita.

Menurut catatan Pemkab Poso, Ina International merupakan investor asing pertama yang tampak serius untuk menanam modal di daerah eks konflik ini. "Karena itu, kami memberikan perhatian yang serius kepada mereka. Kami tidak ingin mereka merasa ditolak di daerah ini," kata Piet Inkiriwang, Bupati Poso, yang ditemui di kantornya belum lama ini.

Ada tiga bidang investasi yang ditarget Ina International di Poso dalam jangka pendek yakni pembudidayaan ikan sidat di Tentena, kota wisata di tepian danau Poso, peternakan sapi potong dan sapi perah di Kecamatan Pamona Utara, penangkapan ikan tuna dan, budidaya ikan kerapu di teluk Tomini.

Selain di Kabupaten Poso, Ina Internasional sedang mengeksplorasi potensi tambang biji besi di Kabupaten Tojo-Unauna, sebuah kabupaten baru yang memisahkan diri dengan Poso pascakonflik horizontal di Poso tahun 2000 lalu.

Investor ini akan mengembangkan budidaya ikan sidat atau belut (sogili) di Danau Poso, dengan sistim keramba yang melibatkan nelayan setempat yang selama ini menangkap sogili dengan cara-cara tradisional. "Kami akan menerapkan sistim keramba karena itu yang paling cepat meningkatkan kesejahteraan nelayan. Semua produksinya akan diekspor," kata Nevita Anastasia

Selain itu, pasar ikan sidat di dunia sangat besar, terutama ke Taiwan, Hongkong, Jepang, China, beberapa negara Eropa, dan kebutuhan mereka selama ini belum pernah tercukupi.
Untuk tahap pertama, kata Nevita, Ina International akan mengembangkan dua sampai 10 buah keramba sebagai percobaan dan akan dimulai bulan Maret dan pelaksanaannya secara teknis akan dibantu oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Poso serta pengusaha lokal yang akan menjadi mitra PT. Ina di poso.

"Dalam waktu dekat ini, kami akan mengalokasikan dana sekitar Rp200 juta untuk membiayai tahap awal investasi dua keramba ikan sidat di Tentena dan pemeliharaan ternak sapi potong percobaan sebanyak 35 ekor sapi jenis Bali di daerah Kele'i. Keduanya di Kecamatan Pamona Utara," ujarnya.
sumber klik disini
Lanjutkan membaca “Investor Singapura Tertarik Tambang dan Perikanan Poso”  »»

Gua Latea, Kuburan Nenek Moyang Orang Pamona

Gua Latea, adalah gua alam berupa bukit kapur yang usia genesisnya sekitar lebih 30 juta tahun silam. Lokasinya berada di atas bukit parere. Gua ini digunakan sebagai kuburan warga suku Pamona---warga asli Poso---pada masa lalu.


Nenek moyang orang Pamona itu, dulunya hidup di bukit-bukit, khususnya yang hidup di perbukitan Wawolembo. Sistem penguburan dengan menaruh jenazah di gua-gua itu, baru berakhir sekitar abad ke-19 Masehi. Gua ini pernah mengalami keruntuhan batuan sekitar lebih 2000 tahun silam.

Gua Latea ini ada dua. Pertama letaknya di bagian bawah. Di sini terdapat empat pasang peti jenazah dan 36 buah tengkorak manusia. Gua ini pernah dipugar tahun 1994 lalu.

Sedangkan gua kedua berlokasi di bagian atas. Terdapat 17 pasang peti jenazah, 47 buah tengkorakdan lima buah gelang tangan. Seperti pada gua pertama, gua ini pernah dipugar tahun 1994.

Gua ini adalah kuburan nenek moyang suku bangsa Pamona. Cara penguburan zaman dulu masyarakat Pamona ini, sama seperti yang dilakukan di Tanah Toraja,Sulawesi Selatan. Memang, menurut Yustinus Hoke (60 tahun), budayawan Pamona,
berdasarkan historisnya, orang Pamona dan orang Toraja masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat.

Karena masih ada hubungan kekerabatan itulah, sehingga beberapa tradisi nyaris sama, termasuk salah satunya adalah cara penguburan jenazah dengan menaruhnya di gua-gua.

Tidak hanya di Gua Latea. Kuburan nenek moyang orang Pamona lainnya terdapat di Gua Pamona yang letaknya persis di tepi Danau Poso. Gua ini memiliki 12 ruang. Menurut Yustinus Hoke, orang Pamona dikuburkan di Gua Pamona ini berdasarkan kelas sosial masing-masing. Hanya saja tidak dijelaskan, di ruangan ke berapa menjadi kuburan bagi kalangan bangsawan dan di mana letak kuburan rakyat biasa.

Meski sebagai kuburan nenek moyang orang Pamona, tapi Gua Pamona ini tidak hanya menjadi tempat wisata yang indah untuk dikunjungi, tapi juga menjadi tempat bermain anak-anak setempat.

Ny. Ruweyana Gundo (50 tahun), kepada The Jakarta Post, mengakui bahwa masa kanak-kanaknya selalu dihabiskan dengan bermain-main di dalam Gua Pamona ini. Ia bersama teman-temannya kadang membolos dari sekolah, hanya karena ingin bermain di dalam gua tersebut.

Lantaran itulah, Ny Ruweyana Gundo ini bisa menjelaskan dengan detail, dari sau ruangan ke ruangan yang lain. Menurutnya, kita hanya bisa masuk sampai ke ruangan ke-3, karena selebihnya sudah sangat gelap dan harus menggunakan alat penerang seperti obor atau senter. "Dan kalau kita masuk sampai ke bilik 12, maka posisi kita sudah berada di bawah air danau Poso," jelas Ny. Ruweyana Gundo.

DICAPAI DENGAN JALAN KAKI

Gua Late, letaknya sekitar 2 kilometer dari jalan utama Tentena, Ibukota Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso. Untuk dapat mencapainya, bisa dengan menggunakan sepeda motor sekitar satu kilometer, lalau kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh sekitar satu kilometer pula.

Jalanannya agak mendaki dan licin. Tapi sudah dibuat tangga beton. Lantaran itu, perlu hati-hati kalau berjalan. Walau begitu, jalannya tetap licin karena penuh lumut. Di samping kiri kanan yang terlihat hanyalah pepohonan dan kebun kakao warga. Dan, kita pun akan hiur dengan merdunnya suara-suara binatang hutan dan aliran air sungai di sekitar tempat itu.

Sebelum sampai ke Gua Late, kita juga akan melewati dua buah jembatan. Jembatan pertama kondisi masih baik, sedangkan jembatan kedua sudah mulai rusak. Sehingga warga hanya menutupi kerusakan itu dengan menggunakan bambu dan batang kayu.

Pendeta Hengky Bawias (32 tahun) yang menjadi penunjuk jalan The Jakarta Post, menjelaskan bahwa jembatan ini sudah mulai rusak sejak tahun 2004 lalu dan belum diperbaiki sama sekali.

Lokasi Gua Late ini berjarak sekitar 57 kilometer arah Selatan Kota Poso, atau 258 kilometer dari Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.


sumber:Ochan Sangadji


Lanjutkan membaca “Gua Latea, Kuburan Nenek Moyang Orang Pamona”  »»

Cerita dari Lembah Bada

Sebenarnya
mata ini masih terasa berat ketika harus bangun pukul enam pagi untuk
ke pangkalan jeep yang sedianya akan membawa saya ke Lembah Bada.
Perjalanan selama empat belas jam dari Tana Toraja ke Tentena masih
menyisakan lelah.




Tubuh ini terasa remuk saat harus duduk di kursi
sempit dan keras di dalam bus tanpa penyejuk udara. Ibu Doris,
pemilik Losmen Victory di Tentena - tempat saya menginap, malamnya
sudah mengingatkan supaya besok pagi segera pesan tempat kalau tidak
ingin ketinggalan.


Sebenarnya mata ini masih terasa berat ketika harus bangun pukul enam pagi untuk
ke pangkalan jeep yang sedianya akan membawa saya ke Lembah Bada.
Perjalanan selama empat belas jam dari Tana Toraja ke Tentena masih
menyisakan lelah. Tubuh ini terasa remuk saat harus duduk di kursi
sempit dan keras di dalam bus tanpa penyejuk udara. Ibu Doris,
pemilik Losmen Victory di Tentena - tempat saya menginap, malamnya
sudah mengingatkan supaya besok pagi segera pesan tempat kalau tidak
ingin ketinggalan. Pasalnya, hanya ada dua mobil jeep dalam sehari
yang melayani rute Tentena-Lembah Bada. Itupun selalu penuh. Sebagai
jenis angkutan umum satu-satunya, Jeep Hard Top keluaran tahun 70-an
yang telah dimodifikasi itu dapat memuat sepuluh penumpang ditambah
barang-barang belanjaan penduduk pedalaman.

Setelah memesan tempat di Pangkalan yang jaraknya hanya puluhan meter dari
Losmen, saya masih sempat melihat-lihat keindahan Danau Poso dari
ujung jalan. Airnya yang jernih, berkilau ditimpa sinar matahari.
Semenjak pecahnya kerusuhan berbau SARA di Poso, hampir tidak ada
pelancong yang berkunjung ke sini. Semua penginapan di Tentena nyaris
tidak ada tamu, termasuk Losmen Victory dan kebetulan hanya saya yang
menjadi satu-satunya tamu malam itu. Walaupun tidak ada tamu, losmen
ini tampak bersih karena setiap hari tetap dibersihkan.

Di depan Losmen Victory, tertulis ‘Tourist Information Center’. Di
dinding ruang tamu tergantung papan yang berisi foto-foto keindahan
alam dan patung-patung megalitikum Lembah Bada. Cerita soal penembak
gelap bukan hal baru di Poso. Ibu Doris bercerita bahwa seorang
tamunya yang warga negara Italia, tewas di tangan penembak gelap
sewaktu dalam perjalanan menuju losmennya. Belum lagi cerita soal
ternak babinya yang habis dibantai oleh para perusuh.

“Tidak usah takut Pak, di sini sekarang sudah aman koq,” teriak Bu Doris
menenangkan. Saya pun bergegas meninggalkan losmen.


Lembah Bada merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi
Tengah. Lokasi yang berada diketinggian 1000 mdpl ini terdiri dari
empat belas desa yang penduduknya sebagian besar bercocok tanam.
Sebagai daerah penghasil beras, maka penduduknya dapat mencukupi
kebutuhan pokok itu sendiri. Daerah ini juga dikenal sebagai salah
satu penghasil Vanilli. Sejauh mata memandang akan disuguhi
pemandangan alam pegunungan dan hijaunya areal persawahan yang empat
puluh persen pengairannya bersumber dari Sungai Lariang. Sungai
terpanjang di Sulawesi.

Lokasinya termasuk daerah pedalaman yang terpencil. Dari Tentena, Kota
Kabupaten Poso, lima jam perjalanan harus ditempuh melalui jalur
perintis menembus hutan. Kondisi jalan tanah yang diperkeras dan
tanjakannya yang curam, hanya mampu dilalui oleh kendaraan sejenis
jeep berpenggerak roda empat. Kondisi jalan akan semakin parah saat
musim hujan. Selain jalannya menjadi berlumpur, waktu tempuhnya bisa
menjadi dua hari. Lebih sepuluh tahun lalu, pesawat perintis milik
para Missionaris masih melayani rute Tentena-Bada, namun sejak
sekitar tahun 1995 telah berhenti operasi. Jalur lain dapat diambil
melalui Kota Palu ke Gimpu dengan kendaraan umum selama tiga jam.
Kemudian dilanjutkan dengan ojek selama empat jam ke Gintu (Lembah
Bada). Atau seperti yang masih biasa dilakukan penduduk dengan
berjalan kaki melalui jalan setapak hutan Lore Lindu selama dua hari.


Di lembah Bada saya menginap di rumah Bapak Agus Tohama, penduduk
setempat yang biasa menjadi guide bagi para petualang. Di samping
rumahnya terdapat bangunan kayu berbentuk rumah panggung, beratapkan
jerami. Dengan jumlah kamarnya empat buah. Rumah panggung itu ia beri
nama ‘Homestay Barito’, sebuah bangunan hasil sumbangan
dari tamunya seorang turis Kanada. Kamar-kamar yang biasanya
disewakan kini kondisinya sudah agak rusak dan tidak terawat.
Rencananya akan direnovasi. “Sudah dua tahun terakhir tidak
digunakan lagi, tamupun sudah jarang,” ungkapnya. Sebagai seorang
guru SD, Pak Agus memiliki kemampuan Bahasa Inggris cukup baik. Ayah
dua orang anak ini biasa menjadi guide bagi para petualang yang
sebagian besar dari mancanegara. Di rumahnya tersimpan pula beberapa
literature tentang patung-patung Lembah Bada hasil penelitian para
arkeolog dari Eropa. Penelitian terhadap megalitikum Lembah Bada
sudah sering dilakukan, namun sampai saat ini arti daripada itu semua
hanyalah berupa dugaan saja.

Menjelajah kawasan Lembah Bada tidak cukup dilakukan dalam satu hari. Tidak ada
petunjuk arah maupun tanda-tanda khusus untuk menuju setiap lokasi
patung. Lokasinyapun dibiarkan apa adanya. Patung-patung Megalitikum
yang terbuat dari batu granit itu bentuknya sederhana namun anggun.
Bentuk tubuhnya memang tampak tidak sempurna. Patung laki-laki dan
perempuan bisa dibedakan dari simbol bentuk alat kelamin yang terukir
di tubuh patung. Posisinyapun berbeda-beda; ada yang berdiri tegak,
miring ke kanan, tidur telentang, dan tengkurap. Lokasinya yang
menyebar di beberapa desa, bisa ditemukan di semak-semak, areal
sawah, ladang, padang rumput, dan bahkan di aliran sungai.

Mencari lokasi patung, terbilang penuh perjuangan. Tak terhitung berapa kali
kulit tangan dan kaki tertusuk duri ketika melewati semak-semak,
menginjak kotoran hewan ternak di tanah yang becek, dan
berbasah-basahan saat harus menyeberangi Sungai Lariang. Belum lagi
kalau lokasi patungnya nangkring di area perkebunan, pasti
mendapatkan cacian dari si pemilik kebun karena tanahnya di
injak-injak. Bahkan sewaktu menuju lokasi Patung Manitu yang
tergeletak di aliran sungai, malah sempat tersasar. Seorang penunjuk
jalan yang paham lokasi, mutlak diperlukan. Untuk menuju satu lokasi
bukan perkara gampang, pasalnya penduduk setempat jarang yang
mengetahui secara pasti dimana letak patung-patung itu berada.

Patung-patung megalit Lembah Bada diperkirakan sebagai patung pemujaan para nenek
moyang dari suku-suku yang ribuan tahun lalu telah menetap di sini.
Semua patung di Lembah Bada tampak menghadap ke arah Barat, konon
mengarah ke sebuah patung berketinggian 3,5 m yang dinamakan Palindo.
Patung Palindo yang artinya penghibur ini dianggap sebagai raja.
Lokasinya disebuah padang rumput bernama Padang Seppe. Sebagai
ungkapan kegembiraan setelah menang perang antar suku, pesta hiburan
dilakukan di depan patung tersebut. Patung yang bentuknya kelihatan
unik adalah Patung Oba. Tingginya sekitar 70 cm. Bentuknya mirip
seekor Kera. Lokasinya yang kini ditengah sawah, konon dahulu adalah
sebuah kolam besar milik seorang kepala suku. Ikan-ikan yang ada di
kolam sering hilang dicuri orang. Kepala suku sangat marah mengetahui
miliknya hilang dicuri. Maka ia mengeluarkan kutukan kepada si
pencuri, yang akhirnya menjadi seekor Kera. Ada pula istilah Kalamba
dan Tutu’na. Sebuah bentuk jambangan besar dengan tutupnya ini
konon memiliki fungsi yang berbeda-beda; sebagai tempat untuk
menyimpan perhiasan, meletakkan tulang-belulang mayat, dan juga
sebagai tempat mandi keluarga raja. Sebagai wilayah agraris yang
subur, tanda-tanda itu sudah ada sejak dulu. Di semak-semak, satu
patung bernama Tinoe yang dianggap sebagai patung dewi padi tampak
masih utuh. Konon, dahulu dilokasi tersebut dilakukan pesta saat
panen padi. Sebuah rumah panggung peninggalan jaman Belanda masih
berdiri utuh. Di belakang rumah terdapat kuburan keluarga umat
Kristen pertama di Bada. Hanya dua meter dari kuburan tersebut,
berdiri Patung Taraeroi yang dianggap sebagai Dewa Perang. Tingginya
hanya sekitar 40 cm.

Sejak lama Lembah Bada terlanjur terkenal ke seluruh dunia. Keindahan
panorama alamnya yang spektakuler dan keberadaan peninggalan
Megalitikum menjadi daya tarik bagi para Arkeolog dan petualang untuk
menjelajah. Hal yang dilematis dihadapi oleh mereka ketika
mengunjungi patung yang letaknya di areal persawahan atau perkebunan.
Sering kali penduduk setempat protes ketika tanahnya diinjak.
“Seharusnya pemerintah daerah membantu pembebasan tanah di sekitar
areal patung,” seperti yang pernah diusulkan oleh Pak Agus saat
diadakan pertemuan dengan Pemda setempat.

Saat pamitan pulang, Pak Agus menawarkan saya untuk menjelajah rute
kawasan Lembah Besoa hingga Danau Lindu selama 5 hari, mudah-mudahan
suatu saat saya bisa kembali.


sumber:http://www.indobackpacker.com/

Lanjutkan membaca “Cerita dari Lembah Bada”  »»

KARAMBANGAN YANG TERLUPAKAN

Karambangan adalah salah satu hasil kesenian dari Propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di kabupaten poso. Tepatnya karambangan adalah salah satu musik yang di mainkan dengan alat musik gitar dan di nyanyikan dengan lirik-lirik (kayori) yang berasal dari bahasa pamona, mori, bada, napu dll. Bukan itu saja karambangan pun dapat di mainkan dengan berbagai macam alat musik tradisional lainnya seperti geso-geso (alat musik berbentuk Biola dengan 1 senar) atau pun juk, dengan tidak melupakan alat musik gitar sebagai alat musik yang terpenting dalam karambangan.







Seperti halnya dero, karambangan sangat lekat dengan masyarakat poso terutama pamona, mori, napu, bada dll. Karena karambangan adalah salah satu kesenian yang tidak dapat di pisahkan dari suku-suku tersebut, walaupun faktanya suku mori telah berpisah dari Kabupaten Poso tapi dalam hal kebudayaan tidak ada yang dapat merubah, mengganti, atau pun menghilangkan kebudayaan tersebut.

Tapi sayangnya begitu terjadinya konflik di tahun 2000, karambagan seakan-akan ikut menghilang di antara tangisan dan kesedihan masyarakat poso.

Contohnya dapat kita lihat pada saat ini, ketika diadakan kegiatan-kegiatan kesenian seperti Festival Budaya atau kegiatan kesenian dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia 17 agustus, karambangan kurang diikut sertakan dalam kegiatan tersebut bahkan tidak ada sama skali.

Pertanyaan yang timbul adalah ini murni kesalahan dari zaman yang semakin berkembang? ataukah pemerintah yang kurang memperhatikan perkembangan kebudayaan? Yang dapat menjawab hanyalah waktu dan kita sebagai masyarakat asli poso. Apa yang dapat kita lakukan agar karambangan tetap hidup dan berkembang.

Apakah karambangan itu hanya mampu untuk kita kenang, apakah kita hanya mampu bercerita kepada generasi-genarasi penerus bangsa kelak dengan rasa bangga bahwa karambangan adalah salah satu bagian dari kebudayaan kita yang telah mati.


sumber:http://lipukupamona.blogspot.com/





Lanjutkan membaca “KARAMBANGAN YANG TERLUPAKAN”  »»

Wisata Archa Watu Mora’a akan Dikembangkan

POSO - Festival Danau Poso (FDP) dan Festival Budaya Daerah (FBD) masih menjadi andalan untuk mempromosikan kekayaan budaya dan pariwisata daerah Kabupaten Poso. Karena itu, Pemkab Poso terus berupaya agar momentum pelaksanaan dua giat yang dapat dijadikan alat promosi budaya dan pariwisata khas Poso itu terus ditingkatkan kualitasnya. Sehingga efek positif, semisal investasi wisata, bisa cepat terealisasi. Penjelasan tersebut diungkapkan Kadis Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Poso, Drs Hendrik Tauro kepada Radar Sulteng.





Menurut Hendrik Tauro, potensi wisata dan budaya di Poso tergolong banyak. Baik dari potensi wisata alam, maupun potensi wisata bahari. Bahkan saat ini Poso telah menemukan potensi wisata alam baru berupa Archa Watu Mora’a (Batu Bersusun) di desa Mayoa Kecamatan Pamona Selatan. “Potensi wisata kita di Poso luar biasa besarnya. Tinggal bagaimana kita mempromosikannya secara efektif ke daerah luar agar wisatawan tertarik datang berinvestasi,” jelas mantan Kabag Tapem Setdakab Poso itu.

Potensi wisata alam Watu Mora’a terletak 15 KM ke arah barat dari jalan Trans Sulawesi desa Mayoa. Sebagai langkah awal upaya mempromosikan potensi wisata Archa Watu Mora’a, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga akan membuka akses jalan menuju ke lokasi gunung Watu Mora’a.

Agar seluruh potensi wisata daerah bisa dimunculkan kepermukaan (saat promosi), maka Dinas Pariwisata sudah mulai melakukan pendataan dan inventarisasi potensi wisata per kecamatan. Data potensi wisata perkecamatan itu nantinya akan dimasukan dalam database wisata daerah. Dan masing-masing kecamatan akan dicarikan satu objek wisata andalan. “Potensi wisata-wisata andalan itulah yang natinya akan diprioritaskan dalam hal perawatan dan pengelolaannya oleh pemerintah daerah,” ujarnya. Demikian pula di sektor wisata bahari, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahragatelah melakukan inventarisasi.(bud)

hal terkait:http://www.radarsulteng.com/berita
Lanjutkan membaca “Wisata Archa Watu Mora’a akan Dikembangkan”  »»

Motaro

Tarian Motaro adalah tarian rakyat yang diciptakan oleh masyarakat suku Pamona sendiri tanpa mendapat pengaruh dari kebudayaan luar. Motaro adalah tarian khas daerah poso (suku pamona) yang sejak dahulu kala sampai sekarang tetap di pelihara dan di kembangkan oleh masyarakat setempat. Hanya lagu/nyanyian yang dipakai sebagai pengiring pengantar tari ini sudah banyak dimodernisasikan, sesuaikan dengan perkembangan seni dalam era perputaran waktu.



Namun demikian, yang menjadi dasar atau inti tarian Motaro masih tetap dipertahankan. Pada masa dahulu tarian Motaro dilakukan untuk menyambut para pahlawan yang baru kembali dari medan pertempuran sebagai rasa syukur mereka kepada pencipta, atas kemenangan mereka.
Pada zaman dahulu sebelum penjajahan Belanda, para penari tarian Motaro ini memakai pakian yang terbuat dari kulit kayu (dalam bahasa pamona disebut ‘inodo’) yang di celup dalam larutan geta dari buah sejenis mangga, yang di sebut buah”polo”.

Adapun perlengkapan dalam membawakan tarian ini adalah:

1. Tinampa, Yaitu gelang tangan yang terbuat dari logam warna putih, bersusun sepanjang hasta (siku sampai kepergelangan tangan) jumlahnya kerang lebih 50 buah.

2. Langko, yaitu gelang kaki yang terbuat dari logam yang berwarna putih, bersusun 2 sampai 10 buah di kaki penari

3. Daun Soi, semacam daun (jenis tumbuh-tumbuhan yang tahan panas ataupun hujan) yang berwarna coklat tua, kadang berwarna merah, yang dipegang oleh tangan kiri para penari, melambangkan/menggambarkan keberanian, dan kehidupan abadi, dan luhur

4. Pedang, yang melambangkan, jiwa kepahlawanan yang tinggi dan bersemangat.

5. Gendang (karatu), yaitu 2 buah gendang sedang, dan sebuah gendang besar yang ditabuh oleh pria/wanita, penabuh yang ahli dalam irama dan gaya pukulan, sesuai dengan gerakan-gerakan dalam tarian ini. Irama pukulan gendang yang tepat seolah-olah mengeluarkan suara yang mengatakan Daku tende lipu se’i artinya “saya angkat kampung ini”. Menurut jiwa dan seninya, pukulan gendang tersebut bertujuan menjujung tinggi/mempertahankan dan mengembangkan daerah ini untuk lebih maju ke tingkat dan perkembangannya yang lebih tinggi.

6. Perisai (kanta), sebuah alat pelindung yang dipakai pada waktu berperang, melambangkan besarnya jiwa kepahlawanan untuk menghadapi segala bentuk musuh. Alat(kanta) tersebut akan dipegang oleh 2 orang pria yang pandai “Mangaru” (seperti cakalele) untuk mengiringi para penari putri membawakan tarian “Motaro”.

Tarian Motaro adalah salah satu tarian di daerah/wilayah Pamona yang menggambarkan:

1. besarnya jiwa kepahlawanan yang kokoh dan kuat untuk melawan dan menghancurkan segala jenis dan bentuk pengrusakan terhadap kemanusiaa.

2. melambangkan kehalusan budi pekerti para putri-putri suku Pamona, yang dapat menghargai dan menghormati sesama sudaranya, sebangsanya, terutama penciptanya, dan orang tuannya.

3. keperacayaan yang teguh akan kekuatan gaib, dewa yang disembah, agar supaya segala berkat serta kenikmatan hidup dan ketentraman bermasyarakat akan diberikan dan dirasakan oleh setiap insan yang mempercayainya.

Lanjutkan membaca “Motaro”  »»

Katiana

Upacara masa hamil pada suku bangsa Pamona ini dalam bahasa daerahnya disebut "Katiana", yaitu upacara selamatan kandungan pada masa hamil yang pertama dari suatu perkawinan seorang ibu. Upacara Katiana ini biasanya dilakukan apabila kandungan itu sudah berumur 6 atau 7 bulan, di mana kandungan dalam perut sang ibu sudah mulai nampak .




Maksud Penyelenggaraan Upacara Maksud utama dari pada penyelenggaraan upacara Katiana ini adalah keselamatan baik untuk kesalamatan ibu, rumah tangga, dan khususnya tertuju kepada keselamatan bayi di dalam kandungan. Artinya bahwa dengan upacara ini didoakan agar bayi di dalam kandungan sang ibu dapat tumbuh dengan subur, sempurna, dan tidak banyak mengganggu kesehatan sang ibu. Di balik upacara tersebut maka secara psikologis, memberikan pegangan bagi sang ibu dan seluruh sanak kerabat yang dapat dijadikan pegangan yang kuat selama dalam masa kehamilannya agar tetap tabah dan kuat menghadapi hal-hal yang cukup kritis dalam kurun waktu 9 bulan itu. Hal ini berarti suatu dorongan dan motivasi bagi sang ibu agar ketenangan tetap melekat dalam jiwanya selama masa hamil.

Waktu Penyelenggaraan Upacara Di dalam menyelenggarakan upacara, suku bangsa Pamona masih mengenal waktu-waktu yang baik dan waktu yang tidak baik. Karena itu, dalam kaitannya dengan upacara Katiana ini ia harus memperhitungkan waktu-waktu yang baik. Dalam hal ini yang berperan menentukan waktu adalah para dukun. Dukun atau topopanuju (Pamona) inilah yang dapat mengetahui apakah kandungan ini sudah berumur 6 atau 7 bulan, dan sekaligus menentukan waktu penyelenggaraan upacara.Biasanya yang menjadi dasar perhitungan mengenai penentuan waktu ini adalah keadaan bulan di langit. Apabila bulan di langit adalah bulan berisi (7 sampai 15) berarti waktunya cukup baik, tetapi apabila bulan di langit sudah berkurang (16 sampai dengan 30), maka waktu ini dianggap kurang baik. Hal ini dikaitkan dengan anggapan agar bayi nanti yang akan lahir dan tumbuh sampai dewasa akan tetap cerah, yaitu secerah dengan terangnya bulan ke 7 sampai bulan ke 15 di atas langit itu.

Tempat Penyelenggaraan Upacara Upacara diselenggarakannya di rumah orang tua sang ibu yang sedang hamil. Perlu diketahui bahwa sistem kekerabatan (kesatuan hidup setempat) bagi suku bangsa Pamona, apabila seorang anak gadis yang sudah kawin, maka suaminya harus tinggal bersama menetap di rumah orang tua istrinya. Biasanya sebelum upacara diselenggarakan di rumah orang tua dari ibu yang hamil, maka diadakan persiapan seperlunya antara lain mengundang seluruh kerabat kedua belah pihak, baik yang jauh maupun yang dekat, di samping mengundang para tetangga dekat atau kenalan-kenalan lainnya.

Penyelenggaraan UpacaraPada penyelenggaraan upacara ini maka petugas inti adalah topopanuju (dukun) yang merupakan keahliannya. Topopanuju ini adalah seorang perempuan yang sudah berumur (lebih dari 50 tahun). Dialah sebagai petugas inti yang menentukan jalannya upacara ini. Di samping itu, ia juga didampingi oleh orang-orang tua kampung terutama sanak keluarga yang semuanya terdiri atas perempuan yang sudah berkeluarga. Selain itu juga didampingi oleh tokoh adat setempat. Kadang-kadang dalam penyelenggaraan upacara Katiana ini seluruh kerabat baik yang jauh maupun yang dekat diundang untuk menghadiri upacara ini. Karena itu, biasanya diadakan persiapan-persiapan upacara, apalagi jika yang diupacarai adalah anak seorang bangsawan atau anak raja.

Pihak-pihak yang terlibat dalam UpacaraPihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah topopanuju, tokoh-tokoh adat, sanak keluarga baik yang bertempat tinggal dekat maupun jauh, ibu-ibu rumah tangga di desa setempat, dan tua-tua desa. Bahkan biasanya secara spontan seluruh orang tua yang mendengar berita akan diadakannya upacara ini akan hadir. Jadi, jelas bahwa kerukunan hidup dan spontanitas sosial kemasyarakatan dan kehidupan gotong-royong pada suku bangsa Pamona ini sangat tinggi.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Sebelum upacara ini dimulai maka diadakan persiapan dan perlengkapan upacara yang diperlukan. Persiapan di sini meliputi pengadaan materi dan alat-alat yang diperlukan atau pantangan-pantangan (tabu) yang perlu dihindari. Alat-alat upacara di sini adalah:
• seperangkat sirih pinang (tembakau, sirih, kapur, dan gambir)
• seperangkat piring-piring adat
• alat tumbuk padi yaitu alu
• tikar (boru) yang terbuat dari daun pandan
• satu ruas bambu yang diisi dengan air jernih
• ruangan upacara yang lantainya harus dari bambu

Jalannya Upacara

Apabila seluruh persiapan dan perlengkapan upacara telah siap dan hari yang telah ditetapkan oleh dukun telah tiba, maka upacara Katiana tersebut segera dimulai dengan tahap-tahap pelaksanaannya sebagai berikut:

• Ibu yang mengandung (yang diupacarai) mengambil tempat di ruangan upacara, yaitu di lantai yang terbuat dari anyaman bambu. Di dampingi oleh suami, seluruh sanak keluarga (ibu-ibu) baik dari pihak suami maupun dari pihak istri. Dukun tersebut harus berada di samping ibu yang diupacarai dengan didampingi oleh tokoh adat setempat, sedangkan lainnya (para undangan) mengambil tempat di sekitar ruangan upacara bahkan di sekitar rumah. Rumah suku Pamona adalah rumah panggung.

• Ibu yang diupacarai tidak diperkenankan memakai baju, rok, dan celana dalam kecuali memakai sarung yang diikat pada bagian atas buah dada, sedangkan toponuju memakai pakaian adat (mbesa) demikian pula tokoh adat yang ada. Alat-alat perlengkapan upacara seperti seperangkat sirih pinang, seperangkat piring adat, alu, boru (tikar), ruas bambu yang berisi air jernih, lemon suanggi (sejenis sirih), dan bunga pinang. Alat-alat perlengkapan tersebut diletakkan di depan sang ibu yang diupacarai.

• Setelah segalanya sudah siap maka upacara Katiana inipun dimulai. Toponuju memulai mengambil ruas bambu yang berisi air jernih sambil membaca mantera-mantera, sedangkan seluruh alat-alat perlengkapan upacara lainnya harus ditempatkan di depan ibu yang diupacarai. Setelah dukun membaca mantera-mantera, maka air yang ada di dalam bambu itu disiramkan ke kepala sang ibu secara perlahan-lahan sebanyak 7 kali. Bagi yang menyaksikan upacara ini harus mengikutinya dengan khusuk di tempat masing-masing. Setelah dukun menyiram air di kepala sang ibu, maka tokoh adat yang mendampinginya juga mengambil bagian untuk menyiram air di kepala sang ibu, demikian pula ibu (orang tua yang diupacarai) serta ibu-ibu kerabat lainnya. Setelah itu upacara puncak dianggap selesai.

• Setelah puncak upacara itu selesai, maka biasanya dilanjutkan dengan makan atau minum-minum. Bagi keluarga bangsawan biasanya makanan yang disajikan cukup besar karena memotong kerbau, tetapi hal ini tidak mengikat karena dapat saja cukup dengan minum saja.

Pantangan-pantangan yang harus dihindari

Pantangan-pantangan yang harus dihindari adalah semua benda yang bergantung harus diturunkan, belanga yang tertutup oleh penutup belanga harus dibuka, tikba yang tertelungkup harus dibuka, peserta upacara harus membuka cincin, gelang, rantai, dan semua yang mengikat dirinya harus dilonggarkan. Selain itu, sang ibu yang diupacarai dan suaminya serta kedua orang tuanya baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki tidak diperkenankan/tidak boleh marah-marah (harus selalu merasa gembira), dilarang memotong/menyembelih binatang apapun juga, tidak boleh mengejek orang yang cacat.

Satu hal yang harus diperhatikan oleh sang ibu yang diupacarai adalah bahwa selama dia mengandung sampai melahirkan nanti harus selalu membawa lemon suanggi (lemon suanggi ini diberikan oleh Toponuju) pada waktu upacara Katiana ini diselenggarakan. Lemon suanggi ini tidak boleh lepas dari sang ibu, jadi harus selalu dibawa. Apabila pantangan-pantangan tersebut di atas dilanggar, maka akan menimbulkan akibat-akibat bagi sang ibu dan keluarganya, yang paling parah ialah akibat bagi sang bayi yang ada dalam kandungan. Akibat itu adalah susah melahirkan, jika lahir dia akan cacat atau sang ibu dan keluarganya mendapat musibah. Karena itu segala pantangan harus dihindari sebaik-baiknya. Sebaliknya kepada sang ibu dianjurkan selalu membawa lemon suanggi kemana saja dan harus melekat pada badannya, karena dalam lemon itu dianggap oleh suku bangsa Pamona sebagai alat penolak bahaya, penolak gangguan setan atau gangguan mahluk halus dan gangguan lainnya.

Lambang-lambang makna atau makna yang terkandung dalam unsur-unsur Upacara

Salah satu lambang yang paling dihormati oleh suku bangsa Pamona terutama dalam upacara daur hidup khususnya upacara perkawinan adalah Sirih Pinang. Sirih pinang ini harus dimiliki dan dihormati oleh setiap orang di wilayah Pamona. Sirih pinang merupakan lambang kesucian, lambang pergaulan, lambang menjalin-hubungan kekerabatan, dan mempererat tali silaturahmi. Karena itu pada setiap upacara daur hidup termasuk upacara Katiana ini selalu dan diharuskan adanya sirih pinang ini sebagai alat kelengkapan upacara. Maksudnya agar bayi yang lahir tetap suci dalam perjalanan hidupnya kelak, juga diharapkan dapat menjadi tumpuan harapan untuk sampai pada jenjang perkawinan nanti dan menurunkan keturunan yang baik-baik, dapat bergaul dengan masyarakat lingkungannya kelak, sedangkan lambang alu adalah bahwa pekerjaan orang khususnya wanita adalah menumbuk padi. Hal ini dikaitkan dengan pekerjaan dan kehidupan yang lebih di waktu mendatang, dan air yang digunakan dalam upacara ini adalah melambangkan agar di dalam melahirkan nanti tidak mengalami kesulitan, tetapi sebaliknya akan lancar seperti air mengalir.


Lanjutkan membaca “Katiana”  »»

Mogawe

Upacara Mogawe adalah salah satu rangkaian upacara pemindahan tulang-tulang jenazah itu dipindahkan pada satu tempat yang tertentu, seperti pada gua-gua, lubang-lubang batu, untuk selama-lamanya. Untuk itulah sebagai kelanjutan upacara ini adalah upacara pesta besar buat orang mati (mogave). Upacara ini disebut pesta buat orang mati, karena masing-masing jenazah yang telah dikuburkan kemudian dikumpulkan tulang-tulangnya untuk diadakan upacara tersendiri.




Maksud dan Tujuan Upacara. Adapun yang dimaksud tentang adanya upacara ini ialah untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tulang-tulang yang telah dikuburkan yang diambil dari para keluarga Kabose yang berasal dari desa-desa lainnya, yang memiliki bahasa dan kebudayaan yang sama.

Tujuannya : bahwa dengan terselenggaranya pesta ini kiranya dapat mempertemukan seluruh keluarga yang telah ditinggalkan agar dapat menjalin hubungan kerjasama dan hubungan kekerabatan, di samping tujuan lainnya adalah tempat pertemuan bagi para muda mudi.
Penyelenggara Teknis Upacara. Sebagaimana yang telah diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa yang paling berperan dalm pelaksanaan upacara ini ialah imam-imam perempuan (Vurake).

Pibak-pihak yang Terlibat dalam Upacara. Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini, hampir semua warga/anggota masyarakat melibatkan dirinya baik sebagai pendamping maupun sebagai pembantu pelaksana teknis operasional. Sedang pendamping dalam upacara ini mutlak hadir seperti, Ketua-Ketua Adat, tokoh-tokoh masyarakat, keluarga dan kerabat, yang masing-masing tentunya mempunyai peranan tersendiri, sehingga persiapan dan perlengkapan upacara terlaksana dengan baik.

Waktu Pelaksanaan Upacara. Masalah waktu pada umumnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku sebelumnya, sedang tenggang waktu pelaksanaan upacara ini berlangsung selama 1 - 2 tahun, tergantung kesepakatan keluarga Kabose.

Adapun penentuan waktu pelaksanaan upacara, tergantung dari hasil mufakat para keluarga Kabose atau keluarga orang mati, khususnya para keluarga bangsawan. Upacara ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu satu atau dua tahun, di mana jenazah yang telah dikuburkan telah menjadi tengkorak atau tulang-tulang, sehingga memudahkan untuk dikumpulkan kembali. Upacara ini dilakukan selama tujuh hari tujuh malam, di mana tenggang waktu itu para keluarga Kabose dapat berkumpul yang berasal dari desa-desa di sekitar tempat dilaksanakan upacara.

Tempat Penyelenggaman Upacara. Upacara ini sering dilakukan pada tempat yang cukup luas yang di perkirakan dapat menampung seluruh peserta upacara terutama keluarga orang mati itu sendiri. Di lokasi di mana dilaksanakan upacara didirikan beberapa barak-barak yang berfungsi menampung para keluarga si mati di samping sebagai tempat istirahat, sedang peti-peti jenazah. Rumah tempat menyimpan tulang atau peti jenazah disebut Tambea (barak).

Persiapan dan Perlengkapan Upacara. Sebelum upacara ini dilaksanakan, maka terlebih dahulu harus dipersiapkan perlengkapan-perlengkcapan yang menunjang terlaksananya upacara itu sebagaimana yang akan diuraikan di bawah ini.
Persiapan Upacara ini antara lain:

• Memberitahukan kepada seluruh keluarga si mati, terutama para keluarga Kabose, demikian pula para Ketua-Ketua Adat, tokoh-tokoh masyarakat, dan seluruh warga desa baik yang ada di dalam desa maupun yang berada di luar desa
• Mempersiapkan peti-peti jenazah yang modelnya agak lebih kecil dibandingkan peti jenazah ketika mula pertama dikuburkan. Peti ini berisi tulang-tulang atau tengkorak-tengkorak yang sudah kering yang dikumpulkan dari tempat penguburan yang pertama
• Mempersiapkan barak-barak tempat menginap dan rumah tempat di mana peti jenazah itu dikumpulkan

Perlengkapan Upacara dalam upacara ini antara lain:

• Pakaian adat tradisional, parang dan tombak, gunanya dipakai dalam tari-tarian perang, sedang dulang dan piring adat dipakai untuk menghidangkan makanan dan minuman
• Kerbau, domba, ayam dan babi berguna sebagai ternak potong, di mana binatang-binatang tersebut dipotong selama berlangsungnya upacara untuk dimakan bersama-sama
• Minuman (saguer) dan makanan-makanan lainnya. Karena upacara ini memerlukan pemotongan binatang dan makanan yang cukup banyak, maka setiap warga atau keluarga si mati yang menghadiri upacara ini membawa beberapa ekor binatang seperti: kerbau, domba, ayam dan lain-lain, juga minuman dan makanan lainnya.

Jalannya Upacara:

• Setelah tulang-tulang itu dikumpulkan oleh masing-masing keluarga, lalu dimasukkan ke dalam peti yang kemudian dibawa ke tempat pelaksanaan upacara, yang diantar oleh keluarga yang diikuti oleh para warganya.
• Selanjutnya peti jenazah itu disimpan di dalam rumah, yang telah ditentukan, dan para keluarga mengambil tempat yang telah disiapkan.
• Mengawali upacara ini diadakanlah pemotongan kepala kerbau berarti upacara "Mogave" secara resmi dimulai. Pada saat itu pula para pemuda-pemuda mulai menari yang diselang-selingi nyanyian-nyanyian. Nyanyian yang harus dilagukan dalam upacara ini ialah "Motengke" dan "Kayori," kedua nyanyian ini berisi syair-syair tentang pujian para pahlawan yang telah gugur di medan perang atau yang memuji para pahlawan mereka yang telah mendapat kemenangan dalam peperangan melawan musuh-musuhnya.
• Pada saat nyanyian dilagukan secara bergantian antara pemuda dan pemudi yang diambil setiap warga Kabose yang hadir dalam upacara ini, sehingga upacara ini merupakan pertemuan jodoh bagi pemuda-pemudinya
• Setelah tujuh hari tujuh malam berlangsung upacara ini, maka tibalah saatnya upacara penguburan kepada tulang-tulang atau tengkorak, di mana upacara ini dipimpin oleh Imam-imam perempuan (Vurake) sekaligus memberikan doa agar jenazah itu tetap selamat dalam perjalanannya.
Pantangan-pantangan yang Dihindari. Sebagaimana uraian yang terdahulu bahwa suku bangsa Pamona masih memiliki pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar, karena menurut kepercayaan mereka bahwa pelanggaran yang dilakukan dapat mengakibatkan yang jelek atau malapetaka bukan saja orang yang berbuat, tetapi dikenakan seluruh warga desa:
• Selama berlangsungnya upacara tidak diperkenankan melakukan tarian-tarian selain yang telah disebutkan di atas seperti tarian Dero, Rego dan lain-lain. Larangan ini diperlukan seluruh peserta upacara, dengan maksud agar acara ini berlangsung dengan hikmat dan nilai skralnya tetap ada.
• Tidak boleh melanggar ketentuan yang berlaku di tempat upacara seperti: pada malam hari, kalau ada di antara keluarga atau peserta yang memegang pelita pada malam hari, berarti mereka itu sudah berkeluarga baik perempuan maupun laki-laki, maka pantang untuk diganggu atau didekati, karena dapat mengakibatkan yang jelek dan berbahaya yang sewaktu-waktu dapat merugi kan seluruh keluarga yang hadir dalam upacara itu, atau bagi orang yang melanggar ketentuan ini, akan diberikan hukuman atau sanksi sesuai hukum adat yang berlaku pada masa itu.
Demikianlah upacara ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam sampai tiba masa penguburannya yaitu di mana peti jenazah itu disimpan di dalam rumah atau tempat penyimpanan jenazah yang berada di luar dewa, dan lain sebagainya, untuk selanjutnya akan diuraikan pula tentang upacara sesudah penguburan (Meloa).

Lanjutkan membaca “Mogawe”  »»

mongkarian

Adapun maksud dari pelaksanaan upacara mongkarian adalah untuk menghormati seseorang yang telah meninggal dunia, maka diperlukan adanya suatu penjagaan secara bergantian yang dilakukan oleh seluruh pihak keluarga yang terlibat dalam upacara ini, sampai batas waktu yang telah ditentukan. untuk dikuburkan. Dengan tujuan agar pihak keluarga yang berduka cita diharapkan, hadir pada saat upacara penguburan dilaksanakan, demikian pula orang-orang tua adat, tokoh-tokoh dan peinuka masyarakat, serta seluruh keluarga baik yang tinggal di desa maupun yang berada di luar desa.





Penyelenggara Teknis Upacara
Untuk pelaksanaan penyelenggaraan upacara ini berjalan sesuai dengan tradisi yang berlaku di kalangan suku bangsa Pamona, terutama di kalangan keluarga Kabose, maka sebagai pelaksana teknis upacara ini dipimpin oleh seorang imam perempuan yang sering disebut Vurake, dan didampingi oleh orang tua-tua adat, sanak keluarga dan seluruh keluarga yang hadir dalam upacara ini. Masing-masing orang yang terlibat dalam upacara ini bertugas mengadakan penjagaan mayat secara bergantian jangan sampai ada binatang buas atau binatang peliharaan lainnya seperti anjing, babi dan lain-lain yang dapat merusak atau memakan mayat itu, terutama menghindari jangan sampai roh-roh, terutama roh-roh jahat atau syetan-syetan yang dapat mengganggu Tanoana atau jiwa orang mati yang mengakibatkan roh atau jiwa orang mati di dalam kubur tidak tenteram. Menurut J. Kruyt mengatakan bahwa dengan matinya manusia itu berlangsunglah suatu perubahan yang sangat besar dan manusia itu harus mengalaini perpisahan dari semua orang yang dicintainya dan dari segala sesuatu yang kepadanya hatinya melekat. (44 : 1977).

Waktu Pelaksanaan Upacara
Karena upacara ini meliputi dua hal yaitu upacara mongkariang dan upacara penghiburan yang sekaligus berangkaian membuat peti jenazah (montambe). Khusus upacara mongkariang yang penghiburan dilakukan pada malam hari, biasanya tiga atau tujuh malam bahkan ada sampai 40 hari 40 malam, hal ini tergantung dari hasil mufakat dari pihak keluarga dan dianggap bahwa seluruh keluarga telah hadir semuanya, barulah ditentukan untuk diadakan waktu penguburannya.
Setelah orang yang meninggal itu telah diketahui, maka dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk menyelenggarakan upacara sebagai persiapan pelaksanaan penguburan yang akan datang, terutama pada malam hari dipersiapkan upacara penghiburan dengan nyanyian mondoboi dan monjojoava, nyanyian ini dipimpin oleh seorang imam perempuan yang isinya nasihat dan peringatan bagi pihak keluarga yang masib hidup. Sedang pada siang harinya dipersiapkanlah peti jenazah dan segala yang berkaitan dengan pemakaman.

Tempat Penyelenggaraan Upacara
Baik upacara mongkariang, penghiburan maupun montambe, dilakukan atau dilaksanakan penyelenggaraannya di rumah tempat tinggal dari orang yang mati itu, karena menurut kepercayaan mereka bahwa orang yang mati itu tetap terikat dalam satu persekutuan besar bersama-sama dengan orang yang masih hidup, masing-masing bergantung yang satu dengan yang lain.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara
1. Persiapan Upacara
1. Setelah diketahui bahwa orang yang sakit itu atau yang menjelang sekarat telah dinyatakan meninggal, maka pihak keluarga menyampaikan kepada seluruh keluarga baik yang berada di desa maupun yang di luar desa, penyampaian ini dilakukan secara lisan. Kalau yang meninggal dunia itu adalah Kabosenya, maka seluruh rakyat datang berbondong-bondong untuk memberikan bantuan, baik bantuan berupa binatang ternak maupun makanan dan minuman. Untuk pihak keluarga Kabose mereka datang dengan membawa oleh-oleh yang pada umumnya bantuan itu berupa ternak potong, seperti kerbau, babi dan lain-lain, demikian pula makanan dan minuman. Adapun keluarga yang tinggal di desa di mana upacara ini akan dilaksanakan telah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk keperluan yang dibutuhkan dalam upacara itu, demikian pula ruangan-ruangan atau tempat upacara, dan bahan kayu yang akan digunakan sebagai peti atau tempat mayat (orang mati).

2. Perlengkapan Upacara
Adapun perlengkapan upacara yang akan dipersiapkan dan digunakan dalam upacara ini antara lain berupa:
o Seperangkat alat-alat makanan dan minuman seperti: mangkok (tabopangkoni), piring adat (tabo), gelas (tabopangi-nung), dan lain-lain.
o Seperangkat benda-benda tajam atau alat-alat yang dipakai dalam perang seperti pedang (penai), tombak (tawala), dan lain-lain.
o Seperangkat sirih pinang seperti : Sirih, pinang, tembakau, kapur, gambir, dan tempat sirih pinang.
o Seperangkat pakaian adat (pakaian Kabose).
o Beberapa puluh ekor binatang ternak bahkan sampai berjumlah ratusan, hal ini tergantung kesanggupan keluarga dan bantuan yang dibberikan para keluarga dan anggota masyarakat seperti: kerbau (baula), ayam (manu), babi, dan lain-lain.
o Seperangkat alat-alat yang dipakai atau dikenakan oleh si mati seperti: bingka, boru, puya, tikar dan kain.
o Seperangkat bahan kayu yang akan digunakan untuk tempat menyimpan mayat atau sebagai peti jenazah.
o Dan beberapa perangkat lainnya yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda.
Adapun fungsi masing-masing perlengkapan sebagaimana yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut:


• Alat-alat makanan dan minuman dilambangkan sebagai alat perlengkapan rumah tangga yang dipakai setiap hari, dan alat ini adakalanya diikutsertakan kepada orang mati di dalam petinya untuk digunakan selama dalam perjalanannya menuju suatu keadaan baru yang paling mengerikan yang tidak dikenalnya, perjalanan ini dilakukan seorang diri tanpa diiringkan seorang teman kepercayaannya. Kecuali perlengkapan-perlengkapan yang disebutkan di atas.

• Perlengkapan lain yang harus menemani perjalanannya yaitu alat-alat yang berupa benda tajam yang berfungsi sebagai alat yang dapat mengusir roh-roh jahat atau syetan-syetan yang dapat mengganggu dalam perjalanannya.

• Demikian pula perlengkapan lainnya yang berupa binatang ternak potong yang harus dimbil darah daripada binatang itu yang kemudian diberi tanda di bagian dahi orang yang mati sebagai simbol bahwa orang mati tersebut telah dibapuskan segala dosa-dosanya yang disebut "moando sala" (menghanyutkan dosa). Pemotongan temak untuk maksud tersebut di atas, bukan saja bagi orang mati, tetapi juga bagi orang-orang yang melakukan pelanggaran adat seperti: berzina, membunuh dan perbuatan kejahatan lainnya.

• Pakaian adat yang dikenakan bagi golongan Kabose sebagai simbol atau lambang kebangsawanan.

• Dan perlengkapan terakhir yang harus disiapkan sebelum orang mati itu dimasukkan ke dalam peti yaitu peti jenazah yang bermodel atau berbentuk perahu yang terbuat dari kayu dan adakalanya kayu itu diberi ukir-ukiran bermakna estetis, dengan maksud bahwa model itu melambangkan sebagai alat kendaraan yang dipakai dalam berlayar seolah-olah orang mati itu dalam proses perjalanan menuju suatu alam yang tidak dikenaInya.
Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya
Apabila segala sesuatunya sudah rampung, maka upacara persiapan penguburan segera dimulai yang rangkaiannya meliputi Upacara Mongkariang, Upacara Penghiburan dan kegiatan membuat peti jenazah sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Vurake (Imam Perempuan) berdasarkan hasil mufakat para keluarga, tokoh-tokoh adat desa setempat.


• Upacara pertama yang dilakukan adalah menempakcan jenazah orang yang mati itu di dalam bilik atau di kamar di mana ruangan itu memungkinkan pihak keluarga dapat mengadakan penjagaan secara bergantian. Kemudian dipersiapkan segala sesuatunya yang merupakan pelengkap atau alat-alat upacara lainnya seperti: pakaian Kabose, alat-alat makan dan minuman, serta beberapa benda tajam lainnya. Perangkat ini adakalanya disimpan atau ditempatkan di sekitar jenazah atau di dalam bilik. Vurake selaku pemimpin upacara mulai mengatur penjagaan pada malam hari dari semua unsur yang hadir terutama keluarga yang terdekat dengan si mati.

• Jenazah yang ditempatkan di dalam bilik, lalu diletakkan di atas tikar yang beralaskan dengan bambu, dan ditutup dengan puya, serta di kiri dan kanan daripada jenazah, duduklah para keluarga mengitari jenazah. Bagian kepala biasanya duduk suami/isteri, dan pada bagian-bagian lainnya duduk anak-anaknya dan keluarga-keluarganya, dan malam-malam berikutnya diatur sedemikian rupa agar semua yang hadir mendapat giliran. Penjagaan jenazah ini biasanya bagi keluarga Kabose biasanya berlangsung selama tiga hari tiga malam, bahkan sampai tujuh hari tujuh malam, sampai tiba waktunya jenazah itu dikuburkan.

• Bersaman acara Mongkariang berlangsung setiap malam, maka pada saat itu pula berlangsung acara malam penghiburan yang dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari. Acara ini juga dipimpin oleh Vurake dan dikelilingi oleh orang tua dan muda, laki perempuan dan biasanya dalam bentuk lingkaran, dan dilakukan pada ruangan yang lebih luas yang dapat menampung orang yang akan mengikuti acara ini. Setelah siap semuanya Ialu Vurake memimpin acara ini dengan menyanyikan lagu-lagu Mopedoboi dan Monjojova. Kedua lagu ini sebenarnya berisi nasibat dan peringatan bagi pihak keluarga yang ditinggalkan dengan kata lain berisi pantun nasihat. Karena lagu ini berisi pantun, maka peserta yang hadir saling balas membalas dengan mengeluarkan pantun-pantunnya. Di samping Vurake menceriterakan otobiografi (riwayat hidup) si mati sewaktu masih hidup seperti: si mati pergi ke hutan mengambil kayu, pergi merantau ke negeri orang, membantu keluarga di rumah, dan hal-hal yang menyangkut kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan baik sewaktu menjadi pemimpin perang maupun pengabdiannya terhadap keluarga dan masyarakat.

• Untuk siang harinya pihak keluarga mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat peti jenazah, tandu jenazah (alat untuk mengangkat peti), perluasan rumah dan tempat penyimpanan peti jenazah. Pekerjaan ini dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidang itu, bagi keluarga Kabose adakalanya jenazah ini memakan waktu sampai berpuluh-puluh hari lamanya, hal ini tergantung kesepakatan keluarga dalam menentukan hari penguburannya. Demikian pula pada waktu siang hari dilakukan pemotongan ternak binatang, dan pada hari pertama dari binatang yang telah dipotong dilekatkan di bagian dahi atau muka jenazah sebagai tanda pelepasan dosa, dan pada hari-hari berikutnya pemotongan ternak seperti kerbau, babi dan ayam, untuk dimakan bersama-sama dan adakalanya sebagian dagingnya dibagi-bagikan kepada warga/anggota masyarakat. Sikap saling bantu membantu dan adanya pembagian pekerjaan masing-masing yang hadir dalam acara ini, membuktikan babwa suku bangsa Pamona sistem nilai kegotong-royongan telah terwujud dalam masyarakatnya.
Pantangan-pantangan yang harus dihindari
Bagi suku bangsa Pamona masih melekat adanya kepercayaan-kepercayaan yang dapat membawa malapetaka apabila dilanggar baik kepada keluarga yang ditinggalkan maupun warga/anggota masyarakat dalam desa itu, oleh karena itu dalam upacara persiapan penguburan ini, ada beberapa pantangan-pantangan yang harus dihindari antara lain sebagai berikut:


• Pada saat diadakannya upacara Mongkariang, maka pihak keluarga dan seluruh yang hadir dalam upacara itu, tidak diperkenankan tidur selama semalam suntuk dengan maksud mencegah jangan sampai ada binatang-binatang liar seperti anjing yang melangkahi mayat itu, kalau hal itu terjadi maka anjing itu harus ditangkap lalu dipotong/dibunuh, yang terpenting adalah mencegah jangan sampai jenazah itu dimasuki roh-roh jahat yang menyebabkan jiwa orang mati tidak tenteram selama dalam perjalanannya.

• Pada waktu berlangsungnya acara penghiburan, dan ketika nyanyian Mondoboi dan Monjojava dilagukan selama semalam suntuk, maka yang hadir dalam acara tersebut tidak diperkenankan tidur seolah-olah yang hadir itu merupakan penyerahan jiwa kepada orang yang mati dengan diantar suatu kerinduan, karena kedua lagu tersebut berisi pantun nasihat sehingga kata-kata yang diungkapkan dapat melahirkan perasaan yang terharu kepada orang mati. Di samping itu tidak diperkenankan mengadakan lagu-lagu atau nyanyian-nyanyian selain daripada kedua nyanyian tersebut di atas, sebab bisa menghilangkan nilai sakralnya, sedang nyanyian itu hanya dapat dilagukan pada upacara kematian, tidak diperkenankan dinyanyikan dalam upacara kegembiraan.
• Pada siang harinya seluruh kegiatan atau usaha-usaha yang merupakan sumber ekonomi masyarakat di desa itu tidak diperkenankan seorangpun untuk melaksanakannya. Waktu itu dipergunakan untuk memberikan bantuan dan partisipasinya dalam mempersiapkan segala sesuatunya dari seluruh rangkaian persiapan upacara seperti membuat peti jenazah, memperluas rumah, membuat tangga, mendirikan rumah penyimpanan mayat dan lain sebagainya. Bantuan yang diberikan itu sebagai tanda penghormatan dan kesetiaan kepada Kabosenya.

Adapun isi nyanyian Modoboi dan Monjojava dapat dilukiskan dengan kata-kata sebagai berikut:

• Vurake = "Saya sekarang sudah berangkat, dan saya ucapkan selamat tinggal anak-anakku dan seluruh keluargaku, dan kalau ada kebun yang saya tinggalkan jagalah baik-baik......................................."

• Jawaban Orang yang hadir = "Baik-baiklah kamu selama dalam perjalanan, dan mudah-mudahan kami yang masih hidup ini, senantiasa sehat walafiat serta dijauhkan dari segala bahaya dan penyakit................"

Lanjutkan membaca “mongkarian”  »»

Lembah Napu, Besowa, Bada

Lembah yang memiliki hamparan padang rumput yang luas serta panorama alam yang indah. Pada sekitar lembah terdapat banyak Patung Megalith yang merupakan peninggalan benda purbakala. Patung Megalith adalah merupakan patung yang langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Amerika Latin (marquies Island).




Patung ini manyak memuat misteri tentang kejayaan Suku Napu, Besoa dan Bada pada zaman dahulu kala, sehingga menarik minat para ilmuwan dan wisatawan untuk datang berkunjung sekaligus melakukan penelitian. Jarak Lembah Bada 145 KM dari Kota Poso, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Jeep dan dilanjutkan dengan berjalan kaki (trekking) ke Lembah Besoa dan Bada.

Disepanjang jalan kita akan menyaksikan keindahan hutan tropis sehingga merupakan suatu objek wisata yang menarik bagi para wisatawan. Selain menggunakan jeep, dapat juga dengan menggunakan penerbangan MAF yang secara reguler dapat melayani rute perjalanan dari tentena - bada dan selanjutnya dengan berjalan kaki untuk sampai ke Besoa dan Napu. Fasilitas yang tersedia antara lain adalah Losmen dan Home Stay.


Lanjutkan membaca “Lembah Napu, Besowa, Bada”  »»

Ramai-ramai Panen Sogili di Tentena

TENTENA, SENIN — Para nelayan di Tentena, kota wisata di tepian Danau Poso, Sulawesi Tengah, mulai memasuki masa panen ikan sidat atau belut. Penduduk lokal menyebutnya sogili. "Musim sogili di sini biasanya mulai Desember sampai Juni, namun tahun ini musim rupanya bergeser dan baru mulai ramai Februari 2009," kata T. Tampai, seorang nelayan sogili saat ditemui di Tentena, ibu kota Kecamatan Pamona Utara, sekitar 56 kilometer selatan Kota Poso, Senin (2/3).

Menurut dia, musim panen sogili diperkirakan mencapai puncak pada Mei. Saat ini sebenarnya baru awal-awal panen saja. "Hasilnya belum begitu ramai, paling banyak 10 kilogram sampai 12 kilogram atau sekitar empat ekor per orang tiap hari. Pada puncak musim, satu hari bisa dapat 20 sampai 25 kilogram per hari," ujarnya. Ikan sogili hidup dengan berat di atas dua kilogram per ekor dijual kepada pengumpul untuk diekspor dalam bentuk sogili segar dengan harga Rp 75.000 per kilogram. Sedangkan yang sudah mati atau yang beratnya di bawah dua kilogram per ekor dijual ke masyarakat lokal atau pengusaha restoran/warung makan Rp 45.000 per kilogram. "Nelayan sogili Tentena tahun ini sangat diuntungkan karena dalam musim panen saat ini, harga jualnya cukup menarik mencapai Rp 75.000 per kilogram," kata Kaverius, nelayan sogili lainnya. "Kami tidak pernah kesulitan menjual sogili baik yang hidup maupun mati karena pasarnya banyak.

Pengumpul sogili hidup membeli berapa pun yang dihasilkan nelayan dengan harga cukup tinggi, sebab sogili hidup kini menjadi komoditas ekspor yang dikirim melalui Makassar," kata Kaverius menambahkan. Penangkapan ikan sidat di Danau Poso dilakukan dengan membuat pagar perangkap di mulut sungai berbentuk piramida yang terbuat dari kayu dan bambu. Di ujung piramida itu dipasang bubu (wuwu) atau pukat untuk menampung sogili yang terperangkap. Saat sogili keluar dari Danau Poso dan mulai masuk ke mulut sungai, ikan belut itu akan tergiring masuk ke bubu atau pukat. "Jadi pada subuh hari kita tinggal mengangkat pukat atau bubunya untuk mengambil ikan belut itu," ujarnya.

Setiap pagar perangkap diusahakan oleh delapan sampai sepuluh orang nelayan dengan pembagian hasil dilakukan secara bergiliran setiap hari, misalnya si ’A’ yang mendapat giliran hari Senin, seluruh hasilnya pada Senin itu milik ’A’ demikian selanjutnya. "Ini sudah tradisi yang turun temurun di sini sejak tahun 1950-an," kata Tampa’i (83) yang tampak masih kuat dan tetap menekuni usaha menangkap belut tersebut. Sementara itu, Joni, eksportir sogili di Tentena, mengatakan, pada musim sogili bulan Februari sampai Juni, ia bisa mengekspor 400 kilogram setiap minggu dengan tujuan Taiwan dan China melalui Jakarta. Ikan sogili di dua negara tersebut sangat diminati untuk bahan pencampur sup sehingga pembeli tidak pernah membatasi jumlah untuk dikirim dalam keadaan hidup.



Menurut dia, musim panen sogili diperkirakan mencapai puncak pada Mei. Saat ini sebenarnya baru awal-awal panen saja. "Hasilnya belum begitu ramai, paling banyak 10 kilogram sampai 12 kilogram atau sekitar empat ekor per orang tiap hari. Pada puncak musim, satu hari bisa dapat 20 sampai 25 kilogram per hari," ujarnya. Ikan sogili hidup dengan berat di atas dua kilogram per ekor dijual kepada pengumpul untuk diekspor dalam bentuk sogili segar dengan harga Rp 75.000 per kilogram. Sedangkan yang sudah mati atau yang beratnya di bawah dua kilogram per ekor dijual ke masyarakat lokal atau pengusaha restoran/warung makan Rp 45.000 per kilogram. "Nelayan sogili Tentena tahun ini sangat diuntungkan karena dalam musim panen saat ini, harga jualnya cukup menarik mencapai Rp 75.000 per kilogram," kata Kaverius, nelayan sogili lainnya. "Kami tidak pernah kesulitan menjual sogili baik yang hidup maupun mati karena pasarnya banyak.

Pengumpul sogili hidup membeli berapa pun yang dihasilkan nelayan dengan harga cukup tinggi, sebab sogili hidup kini menjadi komoditas ekspor yang dikirim melalui Makassar," kata Kaverius menambahkan. Penangkapan ikan sidat di Danau Poso dilakukan dengan membuat pagar perangkap di mulut sungai berbentuk piramida yang terbuat dari kayu dan bambu. Di ujung piramida itu dipasang bubu (wuwu) atau pukat untuk menampung sogili yang terperangkap. Saat sogili keluar dari Danau Poso dan mulai masuk ke mulut sungai, ikan belut itu akan tergiring masuk ke bubu atau pukat. "Jadi pada subuh hari kita tinggal mengangkat pukat atau bubunya untuk mengambil ikan belut itu," ujarnya.

Setiap pagar perangkap diusahakan oleh delapan sampai sepuluh orang nelayan dengan pembagian hasil dilakukan secara bergiliran setiap hari, misalnya si ’A’ yang mendapat giliran hari Senin, seluruh hasilnya pada Senin itu milik ’A’ demikian selanjutnya. "Ini sudah tradisi yang turun temurun di sini sejak tahun 1950-an," kata Tampa’i (83) yang tampak masih kuat dan tetap menekuni usaha menangkap belut tersebut. Sementara itu, Joni, eksportir sogili di Tentena, mengatakan, pada musim sogili bulan Februari sampai Juni, ia bisa mengekspor 400 kilogram setiap minggu dengan tujuan Taiwan dan China melalui Jakarta. Ikan sogili di dua negara tersebut sangat diminati untuk bahan pencampur sup sehingga pembeli tidak pernah membatasi jumlah untuk dikirim dalam keadaan hidup.

Lanjutkan membaca “Ramai-ramai Panen Sogili di Tentena”  »»

Menelusuri Nenek Moyang Penduduk Poso

KEBIASAAN mengubur jenazah di dalam gua bukan hanya dilakukan penduduk Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Gua Latea, sekitar 57 kilometer arah Selatan Kota Poso, atau 258 kilometer dari Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah merupakan kuburan purba suku Pamona, penduduk asli Poso.

Nenek moyang orang Pamona itu, dulunya hidup di bukit-bukit, khususnya yang hidup di perbukitan Wawolembo. Sistem penguburan dengan menaruh jenazah di gua-gua itu, baru berakhir sekitar abad ke-19 Masehi. Gua ini pernah mengalami keruntuhan batuan sekitar lebih 2000 tahun silam. Gua Latea terdiri dari dua tingkat yaitu, di bawah, terdapat empat pasang peti jenazah dan 36 buah tengkorak manusia. Sedangkan, di atas, terdapat 17 pasang peti jenazah, 47 buah tengkorak dan lima buah gelang tangan. Kedua bagian ini pernah dipugar tahun 1994.



Cara penguburan zaman dulu masyarakat Pamona ini, sama seperti yang dilakukan di Tanah Toraja,Sulawesi Selatan. Memang, menurut Yustinus Hoke (60), budayawan Pamona, berdasarkan historisnya, orang Pamona dan orang Toraja masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat. Karena masih ada hubungan kekerabatan itulah, sehingga beberapa tradisi nyaris sama, termasuk salah satunya adalah cara penguburan jenazah dengan menaruhnya di gua-gua. Tidak hanya di Gua Latea. Kuburan nenek moyang orang Pamona lainnya terdapat di Gua Pamona yang letaknya persis di tepi Danau Poso. Gua ini memiliki 12 ruang. Menurut Yustinus Hoke, orang Pamona dikuburkan di Gua Pamona ini berdasarkan kelas sosial masing-masing. Hanya saja tidak dijelaskan, di ruangan ke berapa menjadi kuburan bagi kalangan bangsawan dan di mana letak kuburan rakyat biasa.

Meski sebagai kuburan nenek moyang orang Pamona, tapi Gua Pamona ini tidak hanya menjadi tempat wisata yang indah untuk dikunjungi, tapi juga menjadi tempat bermain anak-anak setempat. Gua Latea dan Gua Pamona, adalah dua cagar budaya di Kabupaten Poso. Kedua gua ini terakhir kali ramai dikunjungi pada 1997 lalu, ketika dilaksanakannya Festival Danau Poso (FDP) yang kesembilan.

Setelah meletusnya konflik Poso tahun 1998, praktis Gua Latea dan Gua Pamona ini tak lagi dikunjungi wisatawan maupun peneliti. "Iya, memang sejak kerusuhan, dua gua ini sudah sangat jarang dikunjungi," kata Pendeta Hengky Bawias. Dan lebih menyedihkan lagi, pada FDP yang ke-10 tahun 2007 ini, pihak panitia tidak memasukan Gua Latea dan Gua Pamona sebagai tempat untuk dikunjungi. Padahal, menurut Pendeta Hengky Bawias, pada FDP ke-9 tahun 1997 lalu, Gua Latea merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi oleh tamu lokal, tamu dari luar Poso maupun tamu mancanegara yang hadir pada FDP. (Ruslan Sangaji).

sumber klik disini

Lanjutkan membaca “Menelusuri Nenek Moyang Penduduk Poso”  »»

PEMINANGAN PERKAWINAN ADAT PAMONA

SB Poso -Prosesi adat Pemombai oli dan Mabulere Peowa Keluarga Drs, Piet Inkiriwang, MM berlangsung di Rujab Bupati Poso Kamis, 4 September 2008, dihadiri Ketua Dewan Adat Poso Drs, J Santo, Tokoh-tokoh Adat Pamona, Tokoh-tokoh adat lainnya, Para Pejabat dilingkungan Pemdakab. Poso, Para Sesepuh Keluarga, handai Taulan serta para tamu undangan.

Prosesi Adat Pemombai oli menurut Drs, J Santo adalah merupakan pemberian harta kawin kepada calon isteri yang akan dinikahi, hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya pembuktian tanggungjawab yang besar yang akan dibebankan kepada calon pasangan pria terhadap kewajibannya menafkahi isterinya. Sedangkan Mabulere Peowa atau buka pinang merupakan simbol adat yang didalamnya terdapat bungkusan yang berisi sirih, pinang, plakat yang berisi perhiasan emas gelang, giwang, rantai dan sebagainya. Dalam hal ini Mabulere peowa dimaksudkan sebagai acara rembuk keluarga untuk menentukan layak tidaknya lamaran calon mempelai pria diterima atau tidak, dengan memperhatikan bungkusan yang dihantarkan.

Keseluruhan prosesi adat tersebut berlangsung sukses dan lancar yang dijalani Keluarga Piet Inkiriwang yang akan melangsungkan pernikahan anaknya Verna Gladys Inkiriwang ( Runner Up Miss Universe Tahun 2006 ) pada bulan September mendatang ini di Poso dan Manado.
Pada kesempatan tersebut Seluruh keluarga tampak ceria dan gembira telah melewati prosesi awal adat perkawinan Pamona tersebut. Teristimewa kepada Verna Gladys Inkiriwang yang tampak berseri-seri dan berbinar-binar telah mendapatkan petuah-petuah dari para sesepuh keluarga besar Inkiriwang - Pelealu dari Poso dan Manado.

Acara tersebut diwarnai juga dengan aksi budaya karambangan asal Sulewana yang menyuguhkan lagu-lagu bersyair Pamona yang mendapat applause para hadirin (rstmopo).


sumber klik disini

Lanjutkan membaca “PEMINANGAN PERKAWINAN ADAT PAMONA”  »»

Subscribe
 

About Me

Foto saya
peace and freedom, kata2 yang selalu ada dalam benak dan hati ku,,from bob marley

FEEDJIT Live Traffic Feed

top sites info


Search Engine Optimization and SEO Tools
Blog Search: The Source for Blogs

pengunjung

teman

Blog Archive

facebook